Memilih Main PS Daripada Belajar

Memang harus diakui bahwa anak-anak SLB banyak memiliki kesitimewaan, salah satu keistimewaan yang mungkin jarang dimiliki oleh anak-anak sekolah pada umumnya adalah soal kejujuran. Anak-anak SLB itu bisa diibaratkan sebagai anak kecil yang masih lugu, apa adanya, dan selalu mengungkapkan fakta apa saja, tanpa menutupinya. Hal itulah yang kadang membuat saya pribadi menjadi salut karena kejujuran dan kepolosan mereka meskipun dibalik kekurangannya.


Hal tersebut jelas tergambar saat tadi siang sewaktu aku mengajar mata pelajaran Pendidikan  Agama Islam, ketika tiba waktunya menjelaskan materi tentang "sabar" aku menjelaskan bahwa anak-anak harus senantiasa sabar dalam melakukan apa saja termasuk sabar dalam menegjar cita-cita. Setelah itu aku tanya satu persatu siswa-siswiku, Bagus bilang dia ingin jadi Koki, Afina ingin jadi dokter, Indra ingin jadi tentara, Dina ingin jadi artis kayak Syahrini, Ivan ingin jadi pembalap, Adji ingin jadi model, Joshua, Fendi dan Susilo ingin jadi pesepakbola terkenal.
Gambar

Setelah itu aku menjelaskan, bahwa untuk menggapai semua cita-cita itu kalian harus belajar dengan rajin, mereka menjawab "iya pak guru". Lalu aku tanya lagiu "kalaian kalau di rumah belajar tidak? semua murid menjawab "belajar pak guru" kecuali satu siswa yaitu Ivan. Ia malah menjawab "tidak belajar pak", kutanya kenapa..?? dia menjawab "karena belajar  itu males pak guru, asyik main PS saja, karena seneng main PS, kalau belajar gak bikin seneng" 

Jawaban tersebut juga dengan nada yang serius, seakan tidak ada rasa bersalah pun dari Ivan, meskipun teman-temannya yang lain bilang "uuuhhhh" dasar tukang main PS, marakke bodo, Ivan pun menjawab teman-temannya dengan percaya diri "biarin seng penting aku seneng (biarin yang penting aku senang)". Aku yang mendengar debat tersebut langsung menengahi dan bilang khususnya kepada Ivan bahwa main PS boleh-boleh saja, tapi harus tetap belajar dengan sungguh-sungguh biar bisa mewujudkan cita-cita kalian. Mendengar penejelasanku, Ivan bilang, "ya udah pak guru aku akan belajar, tapi tetap main PS lho pak" aku hanya bisa bilang "he'em"
Gambar

Begitulah anak-anak SLB, semua seakan dianggap biasa, dan sekolah pun dianggap biasa dan dijalani dengan biasa-biasa saja, mereka juga menganggap sekolah merupakan tempat untuk bermain bersama teman-temannya yang lain, tidak ada rasa takut dan khawatir akan masa depan mereka, yang penting mereka bisa bermain dan merasa senang dengan apa yang mereka lakukan.

No comments:

Post a Comment