Review Novel Selingan Semusim: Cinta Tak Harus Memiliki


Benar kata pepatah bahwa cinta itu buta, karena terkadang cinta bisa merubah segalanya. Adakalanya cinta merubah hitam menjadi putih, duka menjadi suka, kecewa menjadi bahagian, sedih menjadi senang ataupun sebaliknya. Itulah kekuatan cinta, jika panah cinta sudah tertancap di hati seseorang maka ia bisa menjadikan seseorang tersebut kehilangan jati dirinya. Banyak cerita cinta yang bisa merubah segala sesuatunya, kita tentu tahu karena cinta yang sangat dalam Qais rela dianggap gila karena mencintai Laila. Kita tentu juga tahu kisah cinta Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian. Semua itu tak lain karena cinta.


Karena cinta pula terkadang hati nurani dikalahkan oleh hawa nafsu, akal kalah dengan perasaan dan malaikat pun takluk  di tangan syetan. Paling tidak itulah gambaran dari perjalanan cinta terlarang dua insan manusia yang berbeda jenis. Bukan hanya karena terlarang karena dua insan yang dimabuk cinta sama-sama telah memiliki keluarga dan anak-anak, akan tetapi dari sudut pandang ajaran agama (Islam) perselingkuhan sangatlah dilarang.

Tampaknya karena panah cinta pula yang membutakan Novita dan Fajar untuk menjalani suatu hubungan yang sangat dilarang oleh ajaran agama dan juga melanggar tatanan sosial masyarakat Indonesia. Kedua insan tersebut dimabuk cinta karena seringnya bertemu dan merasa ada kecocokan. Meskipun secara sadar mereka juga tahu bahwa mereka sudah memiliki keluarga yang sangat mereka sayangi, namun tampaknya hasutan syetan dengan mengatasnamakan cinta telah membuat segalanya menjadi berbeda. Rasa cinta seakan mengalahkan segala-galanya, keluarga, pekerjaan bahkan larangan ajaran agama pun diterjang demi mendapatkan kepuasan yang semu tersebut.

Pada akhirnya Tuhan pun berkehendak untuk menunjukkan arah yang benar melalui jalan yang tidak disangka-sangka melalui musibah kecelakaan serta musibah tsunami. Teguran itulah yang tampaknya menyadarkan Novita bahwa perjalanan hidupnya yang dilalui bersama Fajar kekasih gelapnya merupakan sebuah jalan kesesatan yang harus ditinggalkan. Kehilangan keluarga tercinta Arif (suami) dan Niken (anak) ketika terjadi tsunami mendatangkan hikmah yang sangatluar biasa dalam diri seorang Novita. Bahkan pertemuannnya kembali dengan Fajar yang akhirnya menjadikan rumah tangga Fajar menjadi retak karena rencana gugatan cerai Shenny (istri Fajar) semakin menyadarkan Novita bahwa hubungannya terlarang dengan Fajar telah merugikan orang lain.

Akhirnya jalan yang paling tepat yang diambil Novita adalah menjauh dari kehidupan Fajar, meskipun ia sadar betul bahwa dia maupun Fajar saling mencintai, tetapi cinta yang mereka jalankan adalah cinta yang terlarang yang merugikan kebahagian orang lain (keluarga Fajar). Keputusan yang diambil Novita merupakan satu gambaran nyata bahwa cinta tak harus memiliki, apalagi cinta yang terlarang dan dibangun di atas penderitaan orang lain.
 
Itulah gambaran perjalan cinta terlarang yang coba diuraikan secara apik dalam sebuah Novel yang berjudul "Selingan Semusin"   karya mbak Alaika Abdullah. Dari novel tersebut juga tergambar bahwa seseorang itu selalu terbagi atas dua hal yang salin bertolak belakang, memiliki sisi positif juga negatif. Fajar disatu sisi adalah seorang yang alim tekun beribadah, sukses dalam pekerjaan namun juga memiliki sisi gelap yaitu tidak bisa menghindarkan dari perselingkuhan. Begitu  juga Novita seorang wanita karier yang telah memiliki suami serta anak juga tak bisa menghindar dari perselingkuhan.

Cerita dalam novel tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang sangat menarik, to the point, mengalir dengan balutan romantisme, eksotisme, vulgarisme bahkan erotisme, hehehhehe.  Yang jelas jika dibaca dan dihayati dengan sungguh-sungguh banyak pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Sehingga membaca novel ini merupakan sebuah keharusan...sukses selalu kepada mbak Alaika...ditunggu kelanjutan novelnya....



Judul Novel : Selingan Semusim
Penulis       : Alaika Abdullah
Penerbit    : Smart Garden Publishing and Printing
Tahun Terbit : 2013

No comments:

Post a Comment