Diklat Desain Grafis

Ternyata mengikuti kegiatan di hari libur menyenangkan juga, apalagi jika kegiatan tersebut memberikan ilmu dan pengalaman yang baru bagi kita tentu hal itu akan menjadikan kita semakin bersemangat dalam menjalani kehidupan nanti. Begitu juga dengan apa yang aku rasakan, meskipun minggu-minggu ini merupakan minggu liburan sekolah, akan tetapi aku mengisinya dengan berbagai ketian yang boleh dibilang sangat menyibukkan, salah satunya adalah mengikuti diklat yang diadakan oleh Balai Pengembangan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.


Dalam acara tersebut sebenarnya para guru hanya bertugas mendapingi siswanya yang kebanyakan adalah siswa dengan berkebutuhan khusus jurusan Tuna Rungu (bisu), bisa dikatakan guru sebagai penerjemah apa yang disampaikan oleh nara sumber. Meskipun di pihak lain, guru sekaligus juga bisa belajar banyak tentang berbagai materi yang diberikan kemudian baru mentrasfernya kepada siswanya.
Gambar minjem di sini

Dalam kesempatan tersebut, sekali lagi aku bertemu dengan teman-teman guru dari SLB se Jawa Tengah yang kebanyakan memang masih tergolong muda-muda. Sama halnya denganku para pendamping yang lain juga masih minim atau bisa dikatakan belum memiliki bekal apapun soal desain grafis, makanya kami semangat untuk mengikuti acara tersebut. Apalagi materi yang diberikan snagat menarik, mulai dari desain pembuatan kemasan produk, membuat banner, membuat backdroup dan juga membuat animasi.

Nara sumber yang dihadirkan pun merupakan narasumber yang sudah profesional karena mereka adalah dosen dari Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang memang terkenal sebagai kampus IT. Nara sumbernya juga masih muda-muda karena emang dosen muda di Udinus sehingga menjadikan suasana diklat menjadi lebih akrab lagi. Meskipun sejujurnya nara sumber banyak yang kesulitan dalam menyampaikan materi karena yang dhadapi adalah anak-anak bisu, sehingga dalam hal inilah peran pendamping menjadi sangat vital.

Harus kuakui bahwa hasil desain grafis yang dihasilkan oleh siswa-siswi SLB peserta diklat sungguh mengagumkan karena sangat bagus, bahkan narasumber juga memberikan pujian bahwa karya anak-anak SLB sudah pantas untuk dijual di pasaran. Hal tersebut jelas sangat membuktikan bahwa meskipun anak-anak SLB dianggap kurang, akan tetapi juga memiliki kelebihan yang snagat luar biasa bahkan melebihi anak-anak yang normal.

Dari semua materi Diklat satu yang paling saya sukai tentun saja materi tentang animasi, dimana poeserta diajarkan bagaimana membuat sebuah animasi atau gambar bergerak. Memang caranya cukup rumit akan tetapi jika mau dipelajari dengan sungguh-sungguh maka akan bisa. Hal itu dibuktikan dengan hasil animasi karya para peserta diklat  SLB se Jateng yang sungguh luar biasa. Dari semua itu yang jelas kemampuan anak-anak SLB dalam berkreasi sebenarnya tidak kalah jauh dengan anak-anak normal. Yang jelas yang dibutuhkan hanya perhatian dan pendampingan kepada anak-anak SLB supaya mau belajar dan terus belajar.

Post a Comment