Ketika Da'i Jadi Selebritis

Saat ini banyak sekali juru dakwah yang tiba-tiba menjadi selebritis, apalagi para da'i muda dan gaul banyak bersliweran di televisi. Berawal dari kemunculan seorang dai muda, gaul dan fenomenal yaitu Almarhum Ustadz Jeffri al Buchori, maka setelah itu bermunculan pula da'i-da'i muda lainnya dengan segala atributnya menghiasi layar kaca televisi Indonesia. Inilah mungkin salah satu bentuk berkembangnya metode dakwah di era modern ini, kalau dulu berdakwah dari kampung ke kampung, namun sekarang cukup melalui media televisi maka jutaan umat Islam dan masyarakat Indonesia bisa menontonnya.


Banyak sekali ustadz-ustadz yang tiba-tiba menjadi terkenal melebihi para artis, sebut saja ustadz Maulana yang sangat terkenal dengan gayanya dengan ucapan "jamaah oohh jamaah, alhamdulilah", maupun ustadz Yusuf Mansur, ustadz Arifin Ilham, ustadz Solmed, maupun utadzah Mamah Dedeh  yang hampir setiap hari muncul di televisi dengan ceramh-ceramahnya dan nasehat-nasehatnya. Belum lagi dengan kemunculan ustadz-ustadz baru hasil dari audisi di berbagai televisi swasta nasional, menambah daftar panjang para ustadz yang dilahirkan dari televisi.

Mungkin lagi zamannya, dimana saat ini para ustadz memainkan perannya sebagai juru dakwah melalui metode dan sarana baru yaitu melalui media televisi. Hal tersebut tentu mengandung keuntungan sekaligus memiliki resiko. Keuntungannya jelas, dakwah yang disampaikan akan diterima oleh kalangan luas, karena disiarkan secara langsung maupun tidak langsung di televisi yang tentunya akan ditonton oleh puluhan juta umat Islam khususnya di seluruh Indonesia. Itu artinya akan memberikan kemudahan bagi para da'i untuk memberikan tausiahnya dan nasehat-nasehat yang baik kepada umat.

Namun disisi lain, lahirnya ustadz-ustadz muda terutama yang berasal dari audisi di televisi juga dianggap sebagai salah satu bentuk hilangnya sakralitas dan kemuliaan para ustadz maupun da'i. Betapa tidak, saat ini dengan tingkat keilmuwan agama Islam yang pas-pas an namun memiliki gaya berbicara yang dianggap unik bisa langsung dianggap sebagai ustadz mumpuni, yang tentunya dalam pandangan masyarakat umum dinilai sebagai seorang yang alim. Hal tersebut baik manakala kemampuan yang bersangkutan benar-benar alim dalam ilmu dan hukum agama, kalau tidak justru akan membuat profesi ustadz dan da'i akan tercemar.

Bukan hanya itu saja, ustadz sekarang ini terutama yang sering terlihat di layar kaca lebih banyak dianggap sebagai selebritis dari pada dianggap sebagai da'i. Hal tersebut bisa kita lihat dengan berbagai pemberitaan tentang masalah pribadi dan keluarga para ustadz, mereka seakan sudah menjadi selebritis yang dengan mudah bisa dikuak habis segala kehidupan pribadinya baik itu yang baik maupun yang jelek. Keterbukaan para da'i televisi terhadap segala macam pemberitaan terkadang menjadi momok yang sangat menakutkan.

Sebagai contoh, salah satu ustadz muda kita saat ini tersandung masalah dengan para TKI di Hongkong soal tarif dakwah. Dalam berbagai berita yang beredar menyebutkan sang ustadz memasang tarif tinggi kepada panitia penyelenggara pengajian di Hongkong. Persoalan tersebut kian rumit saat terjadi saling cela antara pihak panitia dan sang ustadz, belum lagi bola panas tersebut akhirnya sampai menjadi konsumsi publik melalui media massa, baik televisi, media online maupun dunia maya.

Semua orang memberikan komentar dengan masalah tersebut, ada yang mendukung sang ustadz, ada yang menghina dan menghujat ada pula yang hanya diam. Namun dari semua itu sangatlah jelas, bahwa profesi ustadz, apalagi yang melakukan dakwah melalui media televisi memang mengandung banyak resiko. Jika sang ustadz melakukan tindakan yang baik, maka akan di puja dan dipuji oleh siapa saja, akan tetapi jika sedikit khilaf tak jarang juga akan mendatangkan cacian dan makian dari masyarakat luas. Dan itulah salah satu resiko menjadi ustadz/da'i yang sudah menjadi selebritis.

No comments:

Post a Comment