Mengabdi Untuk Negeri


Tak terasa tinggal sebulan lagi tahun pelajaran 2015/2016 akan segera berakhir. Itu artinya pada bulan Juli atau setelah hari raya Idul Fitri 1437 H, akan memasuki tahun ajaran baru 2016/2017. Bahkan tak terasa pula sudah 8 tahun ini saya mengabdikan diri sebagai salah satu pendidik di negeri tercinta ini. Bahkan yang tempat dimana sekarang saya mengabdikan diri merupakan lembaga pendidikan yang selama ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut adalah Sekolah Luar Biasa (SLB).

 
Waktu ngajar
Delapan tahun tentu bukan waktu yang sebentar, apalagi jika dilihat dari lembaga pendidikannya. Karena jujur tidak banyak calon guru yang mau mengajar di SLB. Alasannya sederhana, karena calon guru tersebut merasa tidak memiliki modal pengetahuan maupun kecakapan dalam mengajar anak-anak yang berkebutuhan khusus. Apalagi bagi saya lulusan perguruan tinggi Islam negeri yang memang saat kuliah tidak sekalipun mendapatkan materi perkuliahan tentang bagaimana mengajar anak berkebutuhan khusus. Yang ada hanya materi pengajaran bagi siswa umum/madrasah reguler itupun hanya beberapa sks saja. 
 
Bersama dewan guru lainnya
Apalagi sejak menjadi mahasiswa saya tidak memiliki keinginan untuk menjadi seorang guru ketika lulus kuliah, karena saya lebih cinta dan ingin menjadi wartawan saja. Tapi apa boleh buat pesan dan keinginan orang tua terutama ibu yang ingin salah satu anaknya menjadi seorang pendidik harus tetap dilaksanakan. Dan kebetulan saya juga kuliah di Fakultas Tarbiyah, yang memang mencetak calon-calon guru. Al hasil hal tersebut menjadi satu alasan bagi ibu saya untuk senantiasa menyuruh (menekan) saya untuk menjadi seorang guru.
 
Pakaian adat setiap tanggal 15
Tidak ingin menyakiti hati orang tua, setelah 2,5 tahun bergelut sebagai distributor kosmetik Oriflame wilayah Semarang saya mencoba untuk menggunakan ijazah S1 dengan mendaftar di berbagai sekolah jenjang SMA/SMK dan SMP di Semarang kota. Kurang lebih 30 lamaran saya sebar ke berbagai sekolah di Semarang, namun menunggu hingga 1 bulan bahkan lebih tak satupun lamaran saya mendapatkan respon dari sekolah yang saya daftari.
 
ID Card pegawai Provinsi Jawa Tengah
Ketika pulang ke Blora saya paling tidak sih sudah punya jawaban kepada ibu ketika di tanya "sudah ngajar dimaa? ketika mendapatkan pertanyaan tersebut pasti saya bilang "sampun ngelamar buk, tapi dereng angsal panggilan". Respon ibu pun berbeda, malah beliau beliau bilang "pulang aja, ngajar di rumah". Permintaan itupun belum bisa saya penuhi karena saat itu saya lagi "anyar-anyare" punya pacar hehehehe...
 
Mendampingi siswa pelatihan IT di salah satu hotel di Semarang
Tahun 2008 tepatnya sekitar bulan Juni saya mendapatkan kabar dari seorang teman ada sekolah yang sedang membutuhkan guru Agama Islam, saya diminta untuk mendaftar. Tanpa pikir panjang dan tanya sekolah apa, saya langsung daftar dengan mengirimkan berkas lamaran saya. Saya ingat waktu itu saya kirim lamaran lewat jasa pos hari Kamis, dan Jum'at keesokan harinya saya mendapatkan panggilan untuk test wawancara pada hari Sabtunya. Padahal saat itu posisi saya sedang di Magelang karena mendapatkan undangan plus jadi MC acara pernikahan teman yang kenal saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dulu.
 
Kegiatan pesantren ramadhan (latihan salat)
Tak mau melewatkan kesempatan pada hari yang ditentukan saya berangkat mengikuti test wawancara di sekolah yang saya lamar. Dan ternyata sekolah tersebut adalah SLB Negeri Ungaran. Saya sempat ragu ketika dintanya apakah mantap mau jadi guru SLB, saya jawabnya tidak terlalu mantap. Tapi ketika ingat ibu, saya merasa inilah jawabannya. Paling tidak ketika pulang saya sudah memiliki jawaban ketika dintanya "sudah ngajar dimana? hehehehehe.
 
Ikut pelatihan K 13
Awal menjadi guru PAI SLBN Ungaran dua minggu saya pengin keluar karena merasa bingung harus bagaimana mengajar anak-anak dengan berbagai kebutuhan khusus, ada tunanetra, tunarungu, tunagrahita ringan dan sedang, tunadaksa, tunalaras dan autis. Tapi oleh guru senior yang kebetulan akrab dikasih masukan agar saya mengajar di SLB tidak dijadikan beban melainkan dijadikan sarana rekreasi dan hiburan supaya ketika mengajar tidak kebingungan. 
 
Juri Porseni
Sekarang saya sudah delapan tahun menjadi guru di SLBN Ungaran, dari gaji 150.000/sebulan yang saya dapatkan dari Komite sekolah dan masih berstatus sebagai guru honorer. Saat ini status guru honorer sekolah telah berubah per Januari 2016 yang lalu menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK) Provinsi Jawa Tengah. Alhamdulilah gaji yang saya terima saat ini juga sudah sesuai dengan UMP, meskipun masih berstatus kontrak. Semoga pengabdian yang selama ini saya jalani akan menjadi berkah bagi kehidupan saya dan keluarga di masa mendatang, amien.

4 comments:

  1. Walaahh Gusti.. suamiku memang supeer

    ReplyDelete
    Replies
    1. super apa ini my...superman..apa superrangers..

      Delete
  2. Menjadi guru itu pekerjaan yang membawa berkah. Semoga ke depan selalu dimudahkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete