Menjadi Mulia Karena Lisan dan Busana


Pepatah Jawa mengatakan “ajining diri ono ing lathi, ajining rogo ono ing busono” kurang lebih artinya: kemulian diri itu berasal dari ucapan, dan kemualian raga itu dari busana. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya manusia, termasuk saya tentunya harus benar-benar memperhatikan pesan moral dalam pepatah itu. Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat kita harus senantiasa bisa menjaga ucapan dan penampilan tentunya, bukan karena ingin dupuji lhoo.., melainkan karena memang kewajiban jita untuk menjga harga diri dan kemuliaan kita dihadapan masyarakat.

Siapa coba yang harus menjaga harga diri dan kemulian diri kita kalau tidak kita sendiri, bener kan? Contoh kecil misalnya, ketika kita hidup bertetangga kita tentunya harus menjaga tutur kata kita ketika berbicara dengan orang-orang di sekitar kita (tetangga). Senantiasa berkata jujur, sopan dan lemah-lembut tentu sudah menjadi kewajiban kita dalam bergaul dengan tetangga. Sekali saja kita berkata bohong maupun berucap kasar kepada tetangga, biasanya kita lama-lama akan dikucilkan dan ditinggalkan oleh tetangga kita. Atau yang lebih parah jika orang lain merasa tersakiti, maka akan menumbuhkan permusuhan.

Sebaliknya jika kita senantiasa mampu menjaga lisan kita dari kata-kata jelek, tentu setiap orang akan merasa dekat, nyaman dan bisa menjadi saudara kita. Kuncinya adalah jika kita ingin dihormati dan dimuliakan oleh orang lain maka kita harus menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik dan benar, salah satunya tentu saja senantiasa berkata-berkata yang baik dan benar dalam setiap pergaulan kita.

Selain menjaga lisan kita, kemuliaan seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Bahkan cara berbusana sering menjadi salah satu faktor yang menunjukkan kepribadian dan karakter seseorang. Salah satu cara berpakaian yang benar adalah dengan berpakaian yang sederhana tetapi sopan. Membiasakan diri dengan berbusana yang bagus-bagus dengan harga yang mahal dalam keseharian biasanya akan memberi kesan bahwa seseorang tersebut suka pamer dan sombong. Oleh sebab itulah kita harus bisa memilih berbusana yang sesuai dengan kondisi dan situasi dimana kita sedang berada. 


Semisal saat ini, khususnya bagi umat Islam Indonesia dimana sedang menjalankan ibadah puasa. Salah satu kesunahan yang utama di bulan ramadhan adalah melaksanakan salat tarawih. Di mana ketika menjalankan salat, umat Islam diharuskan memakai busana terbaiknya bukan yang paling bagus dan mahal. Salah satu pakaian umat Islam yang biasa digunakan saat salat adalah baju koko yang bersih dan bagus bagi muslim laki-laki. Busana tersebut seakan sudah identik dengan umat Islam Indonesia, khususnya digunakan saat menjalankan ibadah salat maupun kegiatan umat Islam lainnya seperti pengajian maupun menghadiri majlis taklim.

Kenapa harus berpakaian koko ketika salat atau pergi pengajian, salah satu alasannya adalah koko merupakan pakaian muslim yang sopan dan identik sebagai busana umat Islam Indonesia. Bukan berarti berpakaian selain koko tidak diperbolehkan lho, seperti gamis, hem, jubah, jas, dan jenis pakainnya lainnya hanya saja baju koko memang menjadi pilihan utama bagi muslim ketika beribadah khususnya ketika salat. Apalagi di bulan ramadhan, baju koko merupakan salah satu yang paling dicari oleh umat Islam di Indonesia untuk digunakan dalam menjalankan ibadah selama ramadhan hingga hari raya Idul Fitri.

Bagi umat Islam selama ramadhan ini antara menjaga lisan dan berpakaian terbaik sama-sama pentingnya karena keduanya bisa menunjukkan kemuliaan seseorang. Lisan yang baik dapat melahirkan persaudaraan, sedangkan berpakaian yang baik akan mencerminkan kewibawaan. Sehingga akan lebih baik jika keduanya bisa disatu-padukan menjadi kemuliaan sehingga pepatah “ajining diri ono ing lathi, ajining raga ono ing busono” benar-benar bisa terwujud apalagi di bulan ramadhan saat ini.

No comments:

Post a Comment